karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan
maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhan-mu-lah hendaknya kamu berharap (qs 94: 5-8)

30.1.12

mulia di jalanNya

Bahwa sesungguhnya Al-Quranul karim adalah petunjuk bagi orang-orang yang mengimaninya, yakni mereka yang mempercayai dan mengamalkan apa yang diajarkan di dalamnya, adalah benar adanya. Sungguh kita akan masuk kepada golongan orang yang beruntung jika menjadikannya sebagai bahan bacaan untuk menambah pemahaman isi kehidupan dan menjadikannya rujukan untuk melangkah di jalan kebenaran.

Apa yang ada di QS Al-Furqan 63-74 adalah satu diantara sekian petunjuk yang mampu membawa kita jadi insan mulia disisiNya. Dari kandungannya, kita bisa mempelajari sifat-sifat dasar untuk menjadi manusia mulia:

  1. Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.
  2. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.
  3. Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab jahanam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal: Sesungguhnya jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.
  4. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
  5. Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
  6. Dan orang-orang yang  bertobat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya.
  7. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu,
  8. dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.
  9. Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.
  10. Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa."

Dan Allah menjanjikan balasannya lebih baik dari apa yang ada di dunia, yaitu tempat kembali terbaik di akhirat dan kemuliaan disisiNya:
Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. (QS Al-Furqan 75-76)

Semoga kita senantiasa mampu untuk berproses dan memperbaiki diri hingga menjadi bagian dari kemuliaan yang Allah janjikan. Amin..
Dari Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Salman:
Aku mendengar Sahal bin Abdullah berkata:
Dapatkanlah kenikmatan zuhud dengan tidak banyak berangan-angan, putuskanlah tali keserakahan dengan bergaul kepada para ahli dzikir, bukalah pintu kesedihan dengan banyak berfikir, hiasilah dirimu untuk Allah dengan berlaku jujur di setiap keadaan.
Janganlah engkau menunda-nunda pekerjaan karena hal itu akan membinasakanmu, hindarilah kelalaian karena itu akan menodai hati dan mintalah tambahan kenikmatan dengan menambah rasa syukur.
wahai manusia
betapa banyak orang kaya yang berharap menjadi miskin pada saat hari perhitungan amal
tidak sedikit orang yang berkuasa menjadi tak bernilai apa-apa karena kematian
tidak sedikit sesuatu yang manis berubah menjadi pahit karena kematian
betapa banyak orang yang berbahagia  atas kenikmatan yang diraihnya akhirnya terkoyak oleh kematian
tidak sedikit sebuah kebahagiaan yang menyebabkan duka panjang

wahai manusia
barangsiapa dilanda duka, Akulah yang membebaskannya
barangsiapa yang memohon ampun, Akulah yang akan memberikan ampun
barangsiapa yang bertobat, Akulah yang akan menghindarkan dia dari perbuatan durjana
barangsiapa yang merasa ketakutan, Akulah yang memberikan keamanan padanya
barangsiapa yang lapar, akulah yang mengenyangkan

27.1.12

mendidik hati..

Suatu hari sekelompok orang saleh datang berziarah ke rumah Rabi'ah. Ketika itu terjadi dialog antara mereka dengan Rabi'ah tentang penyembahan terhadap Allah.
"Mengapa engkau menyembah Allah?", tanya Rabi'ah kepada salah seorang diantara mereka.
"Karena saya takut azab neraka", jawabnya singkat.
"Mengapa engkau menyembah Allah?", tanya Rabi'ah kepada yang lain.
"Saya menyembah Allah karena takut api neraka, dan ingin masuk ke dalam surga", jawabnya.
Rabi'ah menarik nafas panjang, kemudian berkata
" Alangkah buruknya seorang hamba yang menyembah Allah hanya karena mengharapkan surga dan ingin diselamatkan dari azab api neraka!"
Rabi'ah terdiam beberapa saat. Seakan-akan ia kecewa mendengar jawaban dari orang-orang saleh yang datang menghadapnya tersebut. Kemudian Rabi'ah kembali mengajukan pertanyaan,
"Seandainya surga dan neraka tidak ada, apakah kamu tidak akan menyembah Allah?"
Mereka saling memandang. Tidak menduga kalau Rabi'ah akan mengajukan pertanyaan yang sangat menyudutkan itu. Keadaan hening, tidak ada seorangpun yang berani angkat bicara. Kemudian ada salah seorang diantara mereka memecah keheningan.
"Wahai Rabi'ah, tolong jelaskan kepada kami mengapa hingga engkau menyembah kepada Allah!"
"Saya menyembah Allah karena mengharapkan keridaanNya. Nikmat dan anugerah yang telah diberikanNya kepadaku sudah cukup menggerakkan hatiku untuk menyembah dan beribadah kepadaNya", jawab Rabi'ah singkat.

23.1.12

wahai manusia
tak ada kehidupan yang lebih bermakna sebagaimana halnya menjalankan peraturan agama
tiada istiqamah yang lebih utama sebagaimana halnya menjaga diri dari menganiaya
tiada cinta yang lebih luhur dibandingkan kesopanan
tiada penyelamat yang lebih utama daripada pertobatan
tiada ibadah yang utama sebagaimana ilmu
tiada sembahyang yang lebih utama sebagaimana rasa takut pada Allah
tiada keberuntungan yang lebih bernilai seperti halnya kesabaran
tiada kebahagiaan sempurna seperti pertolongan Tuhan
tiada perhiasan yang lebih indah daripada akal
tiada cinta kasih yang melebihi sifat santun

.. dalam karuniaKu engkau hidup
dalam nikmatKu engkau berpaling ..
i wonder what this heart is

i wonder if heart is a mobile phone
which could be recharged when empty
and play all kind of tone

i wonder if heart is some kind of container
where i could put and pull out the content
whenever
however

i wonder if heart is made of paper
which could be crushed and recycled

i wonder if heart is a board
where i could write  and clean
everything as what i thought

i wonder if heart is a child
who could cried aloud
who could be calmed
who could be fooled
just in once for a while
by talking to his mind

i wonder if heart is color
which could be easily match to other
or might be a chameleon
which could adapt and rely on
the presence of everything around

i wonder if heart is a player
by which i could play stop and pause
the one or the none as desire

i wonder if heart is a balloon
which will explode as it overload

i just wonder
why do i wondering
i wonder if this heart has nothing
to be done for the time being
if only a remote would do help
do steering instead of myself
rabbi

kami telah berislam dan kami telah menyatakan beriman
maka jauhkan keraguan dari hati kami
bimbing hati kami untuk yakin dengan rahasiaMu
karena hanya Engkau Yang Maha Tahu

rabbi
kami bukanlah hamba yang tanpa dosa
yang bersih seputih kapas yang bening seperti embun
maka tanamkan jauh di relung hati kami
hanya Engkaulah tempat mengabdi

rabbi
kami hanya tahu sebatas ilmu yang Kauberi
maka tenangkan kami dengan apapun yang tersisa daripadanya
dengan apapun yang kami punya
sebagai kebaikan dari sebuah anugerah

rabbi
kukuhkanlah isi dada kami
penuhilah ia dengan asa
pada kehidupan yang sesudahnya
yang kekal selamanya
ingatkan ia pada dunia seisinya
yang hanya kesenangan sesaat saja
maka jangan lekatkan kami kepadanya

rabbi
kami lemah tiada daya
teguhkanlah ia dengan harapan kepadaMu
kepada kekuasaanMu
kepada takdirMu
kepada rahmat dan rahimMu
biarlah kami bermimpi tentang indahnya ketaatan
sampai pada masanya ia jadi kenyataan

rabbi
cukupkanlah kami dengan yakin kepadaMu
hidupkanlah kami dengan kasih sayangMu
indahkanlah kami dengan syukur kepadaMu
bahagiakanlah kami dengan cintaMu

rabbi
segala puji bagiMu

21.1.12

antara dua

Apakah kita termasuk orang yang sengsara (menyengsarakan diri) menghadapi hidup ini?

Pertanyaan subjektif yang mengundang jawaban relatif..

Setiap dari kita mesti ada jawaban yang berbeda menurut persepsi dan pemikirannya sendiri. Hanya saja, jangan sampai kita salah memilih, karena Allah sudah memberikan garis panduannya:
"Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit."
Aturannya adalah antara dunia (yang sedikit nilainya) dan apa yang sesudahnya.
Mengapa harus sengsara karena dunia? Sedangkan ada yang lain (yang lebih berat timbangannya).

Harus dipahami, bahwa yang Allah berikan pada hamba dan makhlukNya adalah yang terbaik dalam rancanganNya. Allah adalah sebaik-baik pencipta yang Maha Tahu yang terbaik untuk urusan hamba-hamba dan makhlukNya (siapa yang tahu  sesuatu yang lebih baik selain tuan/pemiliknya?).
"Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu."
Tidak ada yang bisa memberi jika Allah mencegah, dan tidak ada yang bisa mencegah jika Allah memberi. Bagian kita akan menjadi milik kita, pada saat yang telah ditentukan. Kalau kita ragu, adakah tempat lain untuk mengadu?

Mungkin kita bukanlah yang terbaik sebagai hamba. Yang ada kalanya lelah dan merasa paling tersiksa hidupnya. Tapi apakah kita sudah melihat mereka yang di luar sana?
Mungkin seringkali kita berat hati dan seolah terpaksa menerima takdir yang kita hadapi. Tapi apa kita tahu rahasia Ilahi? Yang ilmuNya meliputi antara langit dan bumi?
"Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lawh Mahfuz)."
Semua adalah rahasiaNya. Kita tak tahu ada apa di sebalik detik-detik jalan hidup kita. Jika kita seorang muslim, sekali kita berislam berarti kita telah menyatakan beriman.

Iman, artinya percaya. Meyakini dalam hati, melafazkan secara lisan, melakukan dengan perbuatan.
Sepenuh hati kita harus meyakini bahwa ada kebaikan di setiap ketentuanNya, entah dalam bentuk apapun kewujudannya. Maka usah merasa tersiksa dan sengsara jika kita meminta tapi sepertinya hanya hampa. Mungkin ia diminta bukan pada saat yang sepatutnya, mungkin ia akan diganti dengan nikmat yang lainnya, atau mungkin yang dipinta bukan pilihan yang terbaik untuk kita.
"Katakanlah, 'Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.'"
--
Tuhan
leraikanlah dunia
yang mendiam di dalam hatiku
kerana disitu tidak kumampu mengumpul dua cinta

16.1.12

"Wahai manusia!
Perbanyaklah bekal karena perjalananmu amat jauh.
Perbaruilah semangat pengabdianmu pada Allah karena samudera yang kau arungi amat dalam.
Bersungguh-sungguhlah dalam beramal, karena jembatan yang akan kau lewati amat halus.
Ikhlaslah dalam beramal karena Sang Pengawas Maha Melihat.
Hiduplah untukKu maka aku akan menjadi milikmu.."

15.1.12

Ainul Mardhiyah

Al-Yafii meriwayatkan bahwa Syeikh Abdul Wahid bin Zaid bercerita:

"Pada suatu hari kami bersiap-siap berangkat perang. Aku meminta teman-teman membaca sebuah ayat. Salah seorang lelaki di majelis kami segera membacakan ayat 111 dari surat At-Taubah,
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka..."
Setelah pembacaan ayat tersebut, berdirilah anak muda. Bapaknya telah meninggal dunia dan ia mewarisi harta benda yang banyak.
"Hai Abdul Wahid bin Zaid," panggil anak muda itu.
Lalu ia mengulang ayat tersebut di atas, dengan intonasi seolah ingin ketegasan.
"Sesungguhnya Allah swt membeli dari orang-orang mukmin diri mereka dan harta mereka dengan surga untuk mereka."
"Benar, hai anak muda." tegas Syeikh Abdul Wahid bin Zaid.
"Aku mempersaksikan kepada Engkau," ungkap anak muda itu serius.
"Bahkan diriku dan hartaku kujual dengan surga untukku."
Syeikh Abdul Wahid berkomentar,
"Sesungguhnya tajamnya pedang itu lebih berat kau tanggung daripada melepas harta benda. Dan engkau anak kecil, aku khawatir engkau tidak tabah dalam menghadapi pedang."
"'Hai Abdul Wahid," sergah pemuda itu.
"Aku memohon kepada Allah untuk membelinya dengan surga. Dan aku mempersaksikan kepada Allah bahwa aku telah menjualnya kepadaNya." 
Aku tak habis pikir, dia anak muda punya pikiran seperti itu sedangkan kami tidak.

Anak muda itu lalu mengeluarkan semua harta bendanya, kecuali kuda dan pedangnya serta nafkah secukupnya.
Ketika sampai waktunya berperang, anak muda itulah yang pertama muncul. Ia mengucapkan salam kepadaku dan aku membalasnya. Kemudian berangkatlah kami ke medan laga.
Dalam perjalanan, anak muda itu berpuasa di siang hari dan beribadah di malam hari. Dia berkhidmat kepada kami, mengurus unta-unta dan kuda-kuda serta berjaga ketika kami tidur.

Setelah kami sampai di negeri Romawi, anak muda itu siap menghadapi musuh dan memanggil-manggil,
"Aduh, aku benar-benar ingin bertemu dengan Ainul Mardhiyah."
Teman-temanku berkata,
"Barangkali anak muda itu bimbang dan pikirannya kacau."
Aku segera menghampirinya dan menanyakan,
"Apakah yang kau maksud dengan Ainul Mardhiyah itu?"
"Sesungguhnya aku mengantuk dalam sekejap tertidur."
Tutur anak muda itu.
"Aku bermimpi seakan ada seorang lelaki mendatangiku. Ia menyuruhku mendatangi Ainul Mardhiyah. Dia mengajakku ke suatu sungai yang jernih airnya. Di pinggir sungai itu duduk bidadari-bidadari yang berhias dan berkalung. Aku sendiri tidak dapat menuturkannya dengan kata-kata. Ketika para bidadari itu melihatku, mereka bergembira sambil berkata, 'Itulah suami Ainul Mardhiyah.' Aku mengucap salam dan bertanya, 'Adakah Ainul Mardhiyah diantara kalian?' Mereka menjawab salamku dan menjawab, 'Kami semua pelayannya. Teruslah engkau berjalan.' Aku terus berjalan hingga sampai di sungai yang mengalir susu. Sungai itu berada di sebuah taman yang penuh aneka hiasan dan bidadari-bidadari. Aku terpikat oleh keindahan dan keelokannya. Dan ketika para bidadari itu melihatku, mereka tersenyum gembira sambil berkata, 'Demi Allah, dialah suami Ainul Mardhiyah.' Aku mengucap salam dan bertanya, 'Adakah Ainul Mardhiyah diantara kalian?' Mereka menjawab, 'Hai kekasih Allah, Kami semua pelayannya. Teruskanlah perjalanan engkau.' Aku terus berjalan dan akhirnya tiba di sungi yang mengalir arak. Di tepian sungai itu duduk bidadari-bidadari yang lebih cantik lagi. Aku mengucap salam dan bertanya, 'Adakah Ainul Mardhiyah diantara kalian?' Mereka membalas salamku dan menjawab, 'Kami ini pelayananya. Teruslah engkau berjalan.' Aku melanjutkan perjalanan dan tibalah di sungi yang mengalir madu yang jernih. Di kanan-kirinya bergerombol bidadari-bidadari yang gemerlapan dan lebih elok. Aku mengucapkan salam dan bertanya, 'Adakah Ainul Mardhiyah diantara kalian?' Setelah membalas salamku mereka berkata, 'Hai kekasih Allah, kami semua pelayannya. Teruskan perjalanan engkau.' Aku melanjutkan perjalalanku dan akhirnya sampai di kemah dari intan yang putih. Di pintu kemah itu ada seorang bidadari yang berhias dan berkalung. Aku tidak dapat menuturkannya dengan kata-kata. Sewaktu bidadari itu melihatku, ia tampak gembira dan memanggil-manggil ke dalam kemah. 'Hai Ainul Mardhiyah, suamimu datang.' Aku menghampiri dan memasuki kemah itu. Kulihat seorang bidadari duduk di ranjang emas yang dihiasi mutiara dan yakut. Aku terpikat padanya. Dia berkata, 'Selamat datang wahai kekasih Allah Yang Maha Rahman, engkau hampir sampai kepadaku.' Lalu aku berusaha memeluknya. Dia menolak, 'Sabarlah, karena engkau belum diijinkan. Ruhmu masih di dalam tubuhmu. Engkau boleh bersamaku nanti malam.' Dan terbangunlah aku. Hai Abdul Wahid, aku tidak sabar lagi."
"Percakapan kami belum selesai," papar Abdul Wahid.
"Tiba-tiba datanglah sekelompok pasukan musuh menyerbu kami. Aku hitung ada sepuluh orang. Seketika bangkitlah anak muda itu dan menyerbu mereka. Setelah perang selesai, aku melewati tempat pertempuran itu, aku melihat anak muda itu berlumuran darah. Ia tersenyum sampai menemui ajalnya."
".. Ada tiga hal dalam hubungan antara Aku denganmu: yang satu hal milikKu, yang satu hal milikmu, sedangkan yang satu hal lagi adalah milik antara Aku dan kamu. Satu hal yang menjadi milikKu adalah ruhmu. Satu hal lagi yang menjadi milikmu adalah amal perbuatanmu. Sedangkan doa dan urusan pengabulan adalah yang menjadi milik antara Aku dan kamu. Doa itu darimu sedangkan urusan pengabulan adalah dariKu.."

pelajaran dari alam

Belajar dari pohon kelapa, yang semua bagiannya dapat dimanfaatkan oleh manusia. Begitu juga kita, diciptakan dengan anggota tubuh lengkap tak berkurangan penuh kesempurnaan. Hendaklah semua bagian dimanfaatkan dengan sebaiknya, karena setiap mereka nanti akan dimintai saksi pertanggungjawaban terhadap apa yang dilakukan.

Belajar dari metamorfosa kupu-kupu, bahwa hidup tak melulu terus menuju kesempurnaan dan keindahan. Banyak rintangan yang harus dilalui, ada tahap yang masing-masing perlu dimaknai. Menempa kita menjadi manusia yang terbaik pada akhirnya.

Belajar dari padi tentang mengendalikan hati. Kala diri merasa sudah lebih dari yang lainnya karena lebih berpunya, ilmu, kedudukan, kekayaan, maka di saat itulah masa yang tepat untuk merendahkan hati dan menundukkan pandangan. Bahwa Yang Maha Memberi memiliki lebih dari apa yang kita miliki saat ini. Dan apa yang kita punya itu hanyalah semata-mata karena karuniaNya.

Belajar dari semut yang senantiasa tahu dimana makanan yang dituju. Bahwa semua hal diciptakan dengan kekurangan dan kelebihan, yang boleh jadi kekurangan itu adalah kelebihan dalam rupa dan bentuk yang tak pernah kita sangka. Bahwa kekerdilan bukanlah halangan untuk meraih kesuksesan. Kelemahan adalah satu peluang untuk menyatukan kekuatan. Ada banyak tangan yang bisa digalang untuk mendapatkan dukungan. Sesungguhnya kerja dua orang adalah lebih baik daripada bersendirian.

Belajar dari ubi, menanam dalam-dalam apa yang didapatkan. Diam bukan berarti tak menghasilkan. Diam memendam kebaikan adalah lebih baik daripada berbuat yang tak tentu arah tujuan. Bahwa siapa yang menanam, dia yang akan menuai. Pada akhirnya akan kembali kepada kita setiap perbuatan yang kita lakukan.

"Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?"

14.1.12

seperti katak dalam tempurung
jika sendiri kita termenung
betapa hidup membuat kita tercenung
dengan suka dan duka yang bersambung
seringkali membuat diri merasa linglung
tak jarang juga hati jadi bingung
tapi satu yang harus kita renung
bahwa hidup hakikatnya begitu agung
dengan segala cobaan yang tak terbendung
selalu ada nikmat yang tiada terhitung
sehingga dengannyalah kita berkaca
meski luka dan lara sering mendera
jangan goyah walau hanya sesaat saja
apalagi coba menghentikan langkah
jangan, jangan pernah menyerah
seperti suka yang datang menyapa
luka juga akan datang menggantikan adanya
seperti suka yang membuat kita bahagia
luka akan juga bisa membuat kita merana
tidak penting seberapa parah luka yang kita punya
tapi meyakini bahwa luka-luka itu akan sirna
akan dapat merubah galau yang menerpa
menjadikannya indah pada akhirnya
karena adalah kita yang menentukan ujung
menjadikan diri termasuk orang yang beruntung
bukan membiarkannya jadi rentung
hanya satu yang patut kita renung
kepada Allah segala hal kita bergantung

13.1.12

Dari Ahmad bin Abdullah Al Hafizh: Al Qasim bin Utsman Al Ju'iy berkata:
Mencintai kepemimpinan adalah sumber sari segala macam kerusakan, pekerjaan sedikit disertai ilmu pengetahuan adalah lebih baik daripada banyak bekerja tanpa pengetahuan, modal utama bekerja adalah ikhlas kepada Allah, menjauhkan diri dari perbuatan keji adalah tiang agama, lapar adalah otak dari ibadah, dan sebaik-baik penjagaan adalah menahan lidah.

mencari keuntungan

Seperti jalan yang tidak selalu lurus ke hadapan, seperti roda yang berputar naik dan turun, tak jarang juga kita mendapati diri kita dalam keadaan yang tidak jauh berbeda. Saat banyak aral yang menerpa, dan kaki sudah terasa penat untuk melangkah, maka hanya semangat satu-satunya yang tersisa. Ditemani harapan-harapan akan kesudahan langkah dan akhir yang indah.

Kadang kalau kelemahan itu hadir pada orang-orang di sekeliling kita, sepertinya mudah bagi kita menjadi tempat bersandar untuk mereka. Menghiburnya dengan luahan kata-kata pembangkit jiwa, untuk kembali ke jalur dan tujuan semula. Tapi pernahkah hal itu terjadi pada diri kita sendiri? Apa yang akan kita perbuat untuk menghadapinya?

Ternyata tak semudah menumpahkan kata-kata, yang juga kadang tak selesai meski hati dan kaki terasa sudah lunglai. Maka saat seperti ini, kala semangat kita mulai goyah, mari menjaga diri untuk semakin berhati-hati dalam melangkahkan kaki. Tetaplah berusaha tegak berdiri dan jalani saja laluan yang terbentang di hadapan dengan tenaga yang masih tersisa, meski tidak mudah dan harus dengan susah payah. Ingatlah, "Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya", itu sudah jadi hukum alam-nya, sunnatullah. Apapun rintangannya, yakinlah, tidak akan ada yang diberikan lebih dari kemampuan kita.

Lantas, bagaimana kalau kita sudah merasa ada di ujung perjuangan titik darah penghabisan? Berserah. Bukan menyerah. Berserah diri kepada yang memberi, bukan menyerah pasrah pada apa yang dihadapi.  Karena bagaimanapun juga, itu jalan yang sudah ditentukan untuk kita. Tidak akan pernah ada orang lain yang melaluinya. "Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan". Akhir yang paling akhir adalah kita kembali kepada asalnya. Itu saja.

Ketika kita tak berdaya, ingatlah akhir yang indah yang kita rindukan, dan keberuntungan yang kita harapkan dari sebuah perjalanan panjang. Kumpulkan lagi tenaga untuk menghabiskan langkah, ketepikan godaan-godaan dan bisikan yang melemahkan. "Katakanlah,'Tidak sama yang buruk dengan yang baik meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah, hai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.'"

Semoga kita senantiasa diberikan daya untuk menapaki jalan yang telah pun ditentukan dengan tetap berpegang pada aturan yang sudah Allah berikan.
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)."

7.1.12

seruan arsy

Sufyan Tsauri menjelaskan bahwa menjelang subuh angin yang berhembus membawa dzikir dan istighfar orang mukmin ke hadapan Allah Yang Maha Kuasa.

Bila permulaan malam tiba, para penyeru yang ada di bawah arsy menyeru,
"Berdirilah wahai hamba Allah yang tekun beribadah. Lakukanlah shalat malam sekehendak hatimu!"
Pada pertengahan malam mereka berseru,
"Wahai orang-orang yang taat, bangunlah!"
Ketika menjelang subuh mereka berseru lagi,
"Wahai orang-orang yang memohon ampunan, bangunlah!"
Ketika fajar terbit dikumandangkan pula seruan,
"Bangunlah, wahai orang-orang yang hidup dalam kelalaian!"

tentang 'empat'

"Carilah empat perkara dalam dirimu: amal shalih tanpa riya, mengambil tanpa serakah, memberi tanpa mengungkit semula, menahan harta tanpa kikir."
"Empat macam orang yang menyesali empat perkara: mereka yang ceroboh dan tak sempat beramal, mereka yang putus hubungan dengan karibnya tatkala terkena musibah, mereka yang kalah dengan pendapat lawannya, yang buruk, dan mereka yang berani melakukan dosa."

~Hatim Al Ashom

6.1.12

uang dan pernikahan

Seseorang bertanya kenapa saya mengundurkan diri dari jabatan sebelumnya, padahal dah lumayan strategis dari segi teknis dan ekonomis (sepertinya). "Anda bermasalah dengan gaji ya?" Si dia berusaha menerka (meski bisa dipastikan penanya tak punya dasar apa pun untuk melontarkan kalimat tanya yang bernada sedemikian biasa). "Setiap kita punya pilihan dalam menjalani hidup, dan yang diambil pasti yang terbaik diantaranya.", jawaban klise terkeluar begitu saja. (memang begitu kan?) Karena setiap orang punya standard sendiri untuk menentukan ukuran 'terbaik'nya, jadi endingnya mungkin berbeda meski dalam kasus yang sama.

Saat yang lain ada yang bertanya, "Kenapa anda tidak menikah saja dengannya?" (dalam pandangan penanya, si '-nya' itu sudah masuk kategori layak nikah, dari satu dan lain hal)
Menanggapinya jadi positif thinking aja, mungkin yang bertanya nggak cukup paham bahwa personal standard tidak bisa digeneralkan. Baik menurut dia belum tentu baik menurut anda, seperti halnya bermanfaat untuk anda belum tentu bermanfaat untuk saya.

Ntah benar atau tidak pada pandangan orang di luar sana, pada saya uang dan pernikahan, sesuatu yang kurang lebih sama saja. This life, we do living by using money, everything is all about money but money would never become everything (at least to me myself, even if others might not be). Ada kalanya (meski sangat-sangat jarang) uang tak berharga sama sekali. Menikah begitu juga, ia adalah segalanya. Awal dari sebuah kehidupan baru bernama keluarga. Dari sana jugalah generasi berikutnya bermula. Apa lantas kita bisa mentolerir apa saja semata-mata untuk tujuan kemuliaan pernikahan? Seperti halnya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang? No! dan Never! jawabnya (lagi, menurut saya).

Justru karena uang itu adalah segalanya, maka harus didapatkan dengan cara sebaik mungkin. Karena setiap perbelanjaannya akan diminta pertanggungjawaban. Apa kita akan akan menitiskan setitik nila ke dalam susu sebelanga? Yang akan menjadikan semuanya tidak barokah?

Senada juga dengan pernikahan halnya. Dengan melihat kenyataan bahwa dari sanalah semuanya bermula, maka kita harus juga memulakannya dengan sebaik-baiknya. Ingatlah bahwa Allah tidak menilai kita semata-mata dari awal atau akhirnya, karena selalu ada proses diantaranya. Selama kita mampu berproses dengan baik dan benar menurut panduan yang ditentukan, semaksimal mungkin, semulia mungkin, maka penentuan nilai akhirnya adalah mutlak hak Allah semata.

Wallahu'alam

4.1.12

Kita semakin dewasa jika ...

  • dapat bertenang dan bersabar seandainya hajat tidak tercapai
  • mampu menyembunyikan perasaan yang luka dan berlaku sebagaimana biasa
  • tidak merasa iri hati bila melihat orang lain dipuji dan disanjung
  • dapat mengatasi rasa benci
  • mampu menguasai diri walaupun sangat ingin mendapatkan sesuatu
  • dapat menahan rasa sakit hati
  • selalu berlaku adil meskipun lingkungan tidak mendukung sepenuhnya
  • dapat menerima kritik atau salah paham orang tanpa memperbesar-besarkannya
  • memandang jauh kedepan, dengan sabar menanggung kesusahan demi kepentingan masa depan, tanpa merasa resah, bimbang dan ragu
  • dapat memberi persetujuan kepada pendapat- pendapat yang tidak disetujui dalam perdebatan tanpa merasa sakit hati atau tidak senang
  • berbahagia meski sendirian berbanding berkawan tanpa ada batasan
  • mengakui kekurangan diri tanpa merasa malu
  • menghadapi orang-orang tua atau orang- orang yang lebih berpengaruh tanpa berusaha untuk menimbulkan kesan-kesan negatif
  • melakukan sesuatu dengan sederhana bukannya berlebih-lebihan sekedar untuk menunjukkan kesempurnaan
  • mendahulukan kepentingan orang lain meskipun harus dengan terpaksa
  • berlaku wajar meski terhadap orang yang tidak disuka
  • bisa memberikan kasih-sayang, cinta atau persahabatan tanpa berusaha mendapat tempat yang utama