.. when you want to know everything Allah wants to tell you, read Qur'an..
Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
Dia
telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah,
dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
yang
mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
Dia mengajar kepada manusia
apa yang tidak diketahuinya.
Dengan menyebut nama Allah yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang.
Segala
puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang.
Yang
menguasai hari pembalasan.
Hanya
Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta
pertolongan.
Tunjukilah
kami jalan yang lurus,
(yaitu)
jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan)
mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
***
Pada saat Nabi saw berusia genap 40 tahun, Jibril turun membawa wahyu. Hal itu terjadi pada hari Isnin, 17 Ramadhan.
Imam Bukhari meriwayatkan tentang penurunan wahyu ini dengan sanad yang bersambung kepada Aisyah ra, beliau berkata:
Wahyu pertama diterima oleh Rasulullah saw dimulai dengan suatu mimpi yang benar. Dalam mimpi itu beliau melihat cahaya terang laksana fajar menyingsing di pagi hari. Kemudian beliau digemarkan (oleh Allah) untuk melakukan khalwah (‘uzlah).
Beliau melakukan khalwat di gua Hira’, melakukan ibadah selama beberapa malam, kemudian pulang kepada keluarganya (Khadijah) untuk mengambil bekal.
Demikianlah berulang kali hingga suatu saat beliau dikejutkan dengan datangnya kebenaran di dalam gua Hira’.
Pada suatu hari datanglah Malaikat lalu berkata, "Bacalah."
Beliau menjawab, "Aku tidak dapat membaca."
Rasulullah saw menceritakan lebih lanjut,
"Malaikat itu lalu mendekati aku dan memelukku sehingga aku merasa lemah sekali, kemudian aku dilepaskan."
Ia berkata lagi, "Bacalah."
Aku menjawab, "Aku tidak dapat membaca."
Ia mendekati aku lagi dan mendekapku, sehingga aku merasa tidak berdaya sama sekali, kemudian aku dilepaskan.
Ia berkata lagi, "Bacalah."
Aku menjawab, "Aku tidak dapat membaca."
Untuk yang ketiga kalinya ia mendekati aku dan memelukku hingga aku merasa lemas, kemudian aku dilepaskan.
Selanjutnya ia berkata lagi,
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah dan Tuhan-mu lah Yang Maha Pemurah.
Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." Rasulullah saw segera pulang dalam keadaan gemetar sekujur badannya menemui Khadijah lalu berkata,
"Selimutilah aku ... selimutilah aku .."
Kemudian beliau diselimuti hingga hilang rasa takutnya.
Setelah itu beliau berkata kepada Khadijah,
"Hai Khadijah, tahukah engkau mengapa aku tadi begitu?"
Lalu beliau menceritakan apa yang baru dialaminya.
Selanjutnya beliau berkata,
"Aku sesungguhnya khawatir terhadap diriku (dari gangguan makhluk jin)."
Siti Khadijah menjawab,
"Tidak! Bergembiralah!
Demi Allah, Allah sesungguhnya tidak akan membuat anda kecewa.
Anda seorang yang suka menyambung tali keluarga, selalu menolong orang yang susah, menghormati tamu dan membela orang yang berdiri di atas kebenaran."
Beberapa saat kemudian Khadijah mengajak Rasulullah saw pergi menemui Waraqah bin Naufal, salah seroang anak paman Siti Khadijah.
Di masa jahiliyah ia memeluk agama Nasrani.
Ia dapat menulis huruf Ibrani, bahkan pernah menulis bagian-bagian dari Injil dalam bahasa Ibrani.
Ia seorang yang sudah lanjut usia dan telah kehilangan penglihatannya.
Kepadanya Khadijah berkata,
"Wahai anak pamanku, dengarkanlah apa yang hendak dikatakan oleh anak- lelaki saudaramu (yakni Muhammad saw)."
Waraqah bertanya kepada Muhammad saw,
"Hai anak saudaraku, ada apakah gerangan?"
Rasulullah saw kemudian menceritakan apa yang dilihat dan dialami di dalam gua Hira’.
Setelah mendengar keterangan Rasulullah saw Waraqah berkata,
"Itu adalah Malaikat yang pernah diutus Allah kepada Musa.
Alangkah bahagianya seandainya aku masih muda perkasa!
Alangkah gembiranya seandainya aku masih hidup tatkala kamu diusir oleh kaummu!"
Rasulullah saw bertanya, "Apakah mereka akan mengusir aku?"
Waraqah menjawab,
"Ya. Tak seorangpun yang datang membawa seperti yang kamu bawa kecuali akan diperangi. Seandainya kelak aku masih hidup dan mengalami hari yang akan kamu hadapi itu, pasti kamu kubantu sekuat tenagaku."
Tidak lama kemudian Qaraqah meninggal dunia dan untuk beberapa waktu lamanya Rasulullah saw tidak menerima wahyu.