Seseorang bertanya kenapa saya mengundurkan diri dari jabatan sebelumnya, padahal dah lumayan strategis dari segi teknis dan ekonomis (sepertinya). "Anda bermasalah dengan gaji ya?" Si dia berusaha menerka (meski bisa dipastikan penanya tak punya dasar apa pun untuk melontarkan kalimat tanya yang bernada sedemikian biasa). "Setiap kita punya pilihan dalam menjalani hidup, dan yang diambil pasti yang terbaik diantaranya.", jawaban klise terkeluar begitu saja. (memang begitu kan?) Karena setiap orang punya standard sendiri untuk menentukan ukuran 'terbaik'nya, jadi endingnya mungkin berbeda meski dalam kasus yang sama.
Saat yang lain ada yang bertanya, "Kenapa anda tidak menikah saja dengannya?" (dalam pandangan penanya, si '-nya' itu sudah masuk kategori layak nikah, dari satu dan lain hal)
Menanggapinya jadi positif thinking aja, mungkin yang bertanya nggak cukup paham bahwa personal standard tidak bisa digeneralkan. Baik menurut dia belum tentu baik menurut anda, seperti halnya bermanfaat untuk anda belum tentu bermanfaat untuk saya.
Ntah benar atau tidak pada pandangan orang di luar sana, pada saya uang dan pernikahan, sesuatu yang kurang lebih sama saja. This life, we do living by using money, everything is all about money but money would never become everything (at least to me myself, even if others might not be). Ada kalanya (meski sangat-sangat jarang) uang tak berharga sama sekali. Menikah begitu juga, ia adalah segalanya. Awal dari sebuah kehidupan baru bernama keluarga. Dari sana jugalah generasi berikutnya bermula. Apa lantas kita bisa mentolerir apa saja semata-mata untuk tujuan kemuliaan pernikahan? Seperti halnya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang? No! dan Never! jawabnya (lagi, menurut saya).
Justru karena uang itu adalah segalanya, maka harus didapatkan dengan cara sebaik mungkin. Karena setiap perbelanjaannya akan diminta pertanggungjawaban. Apa kita akan akan menitiskan setitik nila ke dalam susu sebelanga? Yang akan menjadikan semuanya tidak barokah?
Senada juga dengan pernikahan halnya. Dengan melihat kenyataan bahwa dari sanalah semuanya bermula, maka kita harus juga memulakannya dengan sebaik-baiknya. Ingatlah bahwa Allah tidak menilai kita semata-mata dari awal atau akhirnya, karena selalu ada proses diantaranya. Selama kita mampu berproses dengan baik dan benar menurut panduan yang ditentukan, semaksimal mungkin, semulia mungkin, maka penentuan nilai akhirnya adalah mutlak hak Allah semata.
Wallahu'alam