Belajar dari metamorfosa kupu-kupu, bahwa hidup tak melulu terus menuju kesempurnaan dan keindahan. Banyak rintangan yang harus dilalui, ada tahap yang masing-masing perlu dimaknai. Menempa kita menjadi manusia yang terbaik pada akhirnya.
Belajar dari padi tentang mengendalikan hati. Kala diri merasa sudah lebih dari yang lainnya karena lebih berpunya, ilmu, kedudukan, kekayaan, maka di saat itulah masa yang tepat untuk merendahkan hati dan menundukkan pandangan. Bahwa Yang Maha Memberi memiliki lebih dari apa yang kita miliki saat ini. Dan apa yang kita punya itu hanyalah semata-mata karena karuniaNya.
Belajar dari semut yang senantiasa tahu dimana makanan yang dituju. Bahwa semua hal diciptakan dengan kekurangan dan kelebihan, yang boleh jadi kekurangan itu adalah kelebihan dalam rupa dan bentuk yang tak pernah kita sangka. Bahwa kekerdilan bukanlah halangan untuk meraih kesuksesan. Kelemahan adalah satu peluang untuk menyatukan kekuatan. Ada banyak tangan yang bisa digalang untuk mendapatkan dukungan. Sesungguhnya kerja dua orang adalah lebih baik daripada bersendirian.
Belajar dari ubi, menanam dalam-dalam apa yang didapatkan. Diam bukan berarti tak menghasilkan. Diam memendam kebaikan adalah lebih baik daripada berbuat yang tak tentu arah tujuan. Bahwa siapa yang menanam, dia yang akan menuai. Pada akhirnya akan kembali kepada kita setiap perbuatan yang kita lakukan.
"Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?"