karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan
maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhan-mu-lah hendaknya kamu berharap (qs 94: 5-8)

21.1.12

antara dua

Apakah kita termasuk orang yang sengsara (menyengsarakan diri) menghadapi hidup ini?

Pertanyaan subjektif yang mengundang jawaban relatif..

Setiap dari kita mesti ada jawaban yang berbeda menurut persepsi dan pemikirannya sendiri. Hanya saja, jangan sampai kita salah memilih, karena Allah sudah memberikan garis panduannya:
"Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit."
Aturannya adalah antara dunia (yang sedikit nilainya) dan apa yang sesudahnya.
Mengapa harus sengsara karena dunia? Sedangkan ada yang lain (yang lebih berat timbangannya).

Harus dipahami, bahwa yang Allah berikan pada hamba dan makhlukNya adalah yang terbaik dalam rancanganNya. Allah adalah sebaik-baik pencipta yang Maha Tahu yang terbaik untuk urusan hamba-hamba dan makhlukNya (siapa yang tahu  sesuatu yang lebih baik selain tuan/pemiliknya?).
"Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu."
Tidak ada yang bisa memberi jika Allah mencegah, dan tidak ada yang bisa mencegah jika Allah memberi. Bagian kita akan menjadi milik kita, pada saat yang telah ditentukan. Kalau kita ragu, adakah tempat lain untuk mengadu?

Mungkin kita bukanlah yang terbaik sebagai hamba. Yang ada kalanya lelah dan merasa paling tersiksa hidupnya. Tapi apakah kita sudah melihat mereka yang di luar sana?
Mungkin seringkali kita berat hati dan seolah terpaksa menerima takdir yang kita hadapi. Tapi apa kita tahu rahasia Ilahi? Yang ilmuNya meliputi antara langit dan bumi?
"Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lawh Mahfuz)."
Semua adalah rahasiaNya. Kita tak tahu ada apa di sebalik detik-detik jalan hidup kita. Jika kita seorang muslim, sekali kita berislam berarti kita telah menyatakan beriman.

Iman, artinya percaya. Meyakini dalam hati, melafazkan secara lisan, melakukan dengan perbuatan.
Sepenuh hati kita harus meyakini bahwa ada kebaikan di setiap ketentuanNya, entah dalam bentuk apapun kewujudannya. Maka usah merasa tersiksa dan sengsara jika kita meminta tapi sepertinya hanya hampa. Mungkin ia diminta bukan pada saat yang sepatutnya, mungkin ia akan diganti dengan nikmat yang lainnya, atau mungkin yang dipinta bukan pilihan yang terbaik untuk kita.
"Katakanlah, 'Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.'"
--
Tuhan
leraikanlah dunia
yang mendiam di dalam hatiku
kerana disitu tidak kumampu mengumpul dua cinta