"Pada suatu hari kami bersiap-siap berangkat perang. Aku meminta teman-teman membaca sebuah ayat. Salah seorang lelaki di majelis kami segera membacakan ayat 111 dari surat At-Taubah,
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka..."Setelah pembacaan ayat tersebut, berdirilah anak muda. Bapaknya telah meninggal dunia dan ia mewarisi harta benda yang banyak.
"Hai Abdul Wahid bin Zaid," panggil anak muda itu.Lalu ia mengulang ayat tersebut di atas, dengan intonasi seolah ingin ketegasan.
"Sesungguhnya Allah swt membeli dari orang-orang mukmin diri mereka dan harta mereka dengan surga untuk mereka."
"Benar, hai anak muda." tegas Syeikh Abdul Wahid bin Zaid.
"Aku mempersaksikan kepada Engkau," ungkap anak muda itu serius.
"Bahkan diriku dan hartaku kujual dengan surga untukku."Syeikh Abdul Wahid berkomentar,
"Sesungguhnya tajamnya pedang itu lebih berat kau tanggung daripada melepas harta benda. Dan engkau anak kecil, aku khawatir engkau tidak tabah dalam menghadapi pedang."
"'Hai Abdul Wahid," sergah pemuda itu.
"Aku memohon kepada Allah untuk membelinya dengan surga. Dan aku mempersaksikan kepada Allah bahwa aku telah menjualnya kepadaNya."Aku tak habis pikir, dia anak muda punya pikiran seperti itu sedangkan kami tidak.
Anak muda itu lalu mengeluarkan semua harta bendanya, kecuali kuda dan pedangnya serta nafkah secukupnya.
Ketika sampai waktunya berperang, anak muda itulah yang pertama muncul. Ia mengucapkan salam kepadaku dan aku membalasnya. Kemudian berangkatlah kami ke medan laga.
Dalam perjalanan, anak muda itu berpuasa di siang hari dan beribadah di malam hari. Dia berkhidmat kepada kami, mengurus unta-unta dan kuda-kuda serta berjaga ketika kami tidur.
Setelah kami sampai di negeri Romawi, anak muda itu siap menghadapi musuh dan memanggil-manggil,
"Aduh, aku benar-benar ingin bertemu dengan Ainul Mardhiyah."Teman-temanku berkata,
"Barangkali anak muda itu bimbang dan pikirannya kacau."Aku segera menghampirinya dan menanyakan,
"Apakah yang kau maksud dengan Ainul Mardhiyah itu?"
"Sesungguhnya aku mengantuk dalam sekejap tertidur."Tutur anak muda itu.
"Aku bermimpi seakan ada seorang lelaki mendatangiku. Ia menyuruhku mendatangi Ainul Mardhiyah. Dia mengajakku ke suatu sungai yang jernih airnya. Di pinggir sungai itu duduk bidadari-bidadari yang berhias dan berkalung. Aku sendiri tidak dapat menuturkannya dengan kata-kata. Ketika para bidadari itu melihatku, mereka bergembira sambil berkata, 'Itulah suami Ainul Mardhiyah.' Aku mengucap salam dan bertanya, 'Adakah Ainul Mardhiyah diantara kalian?' Mereka menjawab salamku dan menjawab, 'Kami semua pelayannya. Teruslah engkau berjalan.' Aku terus berjalan hingga sampai di sungai yang mengalir susu. Sungai itu berada di sebuah taman yang penuh aneka hiasan dan bidadari-bidadari. Aku terpikat oleh keindahan dan keelokannya. Dan ketika para bidadari itu melihatku, mereka tersenyum gembira sambil berkata, 'Demi Allah, dialah suami Ainul Mardhiyah.' Aku mengucap salam dan bertanya, 'Adakah Ainul Mardhiyah diantara kalian?' Mereka menjawab, 'Hai kekasih Allah, Kami semua pelayannya. Teruskanlah perjalanan engkau.' Aku terus berjalan dan akhirnya tiba di sungi yang mengalir arak. Di tepian sungai itu duduk bidadari-bidadari yang lebih cantik lagi. Aku mengucap salam dan bertanya, 'Adakah Ainul Mardhiyah diantara kalian?' Mereka membalas salamku dan menjawab, 'Kami ini pelayananya. Teruslah engkau berjalan.' Aku melanjutkan perjalanan dan tibalah di sungi yang mengalir madu yang jernih. Di kanan-kirinya bergerombol bidadari-bidadari yang gemerlapan dan lebih elok. Aku mengucapkan salam dan bertanya, 'Adakah Ainul Mardhiyah diantara kalian?' Setelah membalas salamku mereka berkata, 'Hai kekasih Allah, kami semua pelayannya. Teruskan perjalanan engkau.' Aku melanjutkan perjalalanku dan akhirnya sampai di kemah dari intan yang putih. Di pintu kemah itu ada seorang bidadari yang berhias dan berkalung. Aku tidak dapat menuturkannya dengan kata-kata. Sewaktu bidadari itu melihatku, ia tampak gembira dan memanggil-manggil ke dalam kemah. 'Hai Ainul Mardhiyah, suamimu datang.' Aku menghampiri dan memasuki kemah itu. Kulihat seorang bidadari duduk di ranjang emas yang dihiasi mutiara dan yakut. Aku terpikat padanya. Dia berkata, 'Selamat datang wahai kekasih Allah Yang Maha Rahman, engkau hampir sampai kepadaku.' Lalu aku berusaha memeluknya. Dia menolak, 'Sabarlah, karena engkau belum diijinkan. Ruhmu masih di dalam tubuhmu. Engkau boleh bersamaku nanti malam.' Dan terbangunlah aku. Hai Abdul Wahid, aku tidak sabar lagi.""Percakapan kami belum selesai," papar Abdul Wahid.
"Tiba-tiba datanglah sekelompok pasukan musuh menyerbu kami. Aku hitung ada sepuluh orang. Seketika bangkitlah anak muda itu dan menyerbu mereka. Setelah perang selesai, aku melewati tempat pertempuran itu, aku melihat anak muda itu berlumuran darah. Ia tersenyum sampai menemui ajalnya."