Sesuatu disebut tidak higienis atau tidak sehat karena pada akhirnya tidak banyak (atau tidak sama sekali) memberikan manfaat.Seringnya istilah higienis berhubungan dengan makanan atau kesehatan. Tapi sadarkah kita dengan bahwa ada yang lebih dari itu? Level higienis sesuatu yang seringkali terlepas dari pandangan kita, yaitu kebersihan dan kesehatan diri kita, amalan-amalan kita, lahir kita, batin kita, dan segalanya embel-embel yang ada pada kita.
Salah satu ke'higienis'an yang penting dan perlu dijaga adalah kalimat-kalimat yang meluncur dari lisan kita.
Kenapa hal ini yang lantas menjadi perhatian? Tentu ada latar belakangnya.
Pernahkah kita membaca kalimat ini: "Manusia dikaruniai dua telinga dan satu mulut. Telinga tidak pernah tertutup tetapi mulut bisa ditutup sehingga manusia harus belajar untuk menggunakannya secara benar." Atau yang ini: "Kita dilahirkan dengan dua mata, dua telinga namun cukup dengan satu mulut, karena mulut adalah senjata tajam yang dapat melukai, memfitnah bahkan membunuh."
Sedemikian pentingnya lisan bagi kita, sehingga penjagaan itu harus dilakukan 24/7 (kecuali waktu kita tidur tentunya).
Yang dimaksud dengan kalimat tidak higienis yakni ucapan-ucapan yang kurang atau bahkan tidak memberikan manfaat sama sekali bagi yang mengucapkan atau yang mendengarnya. Bahkan pada satu tahap tertentu dikategorikan sebagai 'membahayakan kesehatan jiwa'.
Salah satu bentuk ke'tidak-higienis'an ucapan kita adalah perkataan-perkataan yang tidak pada tempat, waktu, dan orang yang sesuai. Bahkan sebuah gurauan pun bisa masuk dalam kelas ini, jika salah sasaran.
> Masing-masing orang mempunyai sense yang berbeda terhadap ke'tidak-higienis'an sebuah kalimat.
Ada diantara kawan saya yang bersahabat karib sampai seperti adik-kakak. Yang satu seperti air tenang, tapi menghanyutkan. Yang satunya lagi sensitif abiz tiada terkira. Suatu saat, karena ulah si air tenang, keduanya bertengkar, perang, dingin, dan saling membenci habis-habisan. Padahal si air tenang merasa biasa saja, tapi sebaliknya, si sensitif merasa ke'tidak-higienis'annya melewati batas yang sepatutnya. Di lain waktu, mereka baikan, ntah dengan cara bagaimana dan kenapa. Tapi tak lama kemudian bergelora dan membara semula karena hal sama, ke'tidak-higienis'an si air tenang. Puffhh.. Betapanya..
> Masalah kecil menjadi besar di mata orang kecil, dan masalah besar menjadi kecil di mata orang besar.
Seperti cerita di atas, perspektif seseorang akan berpengaruh terhadap penyelesaian masalah dan sikap hidupnya. Bagi sebagian orang, sesuatu perkara yang simple belum tentu demikian juga bagi sebagian yang lain. Jika akibat dari sesuatu ini simple bagi seseorang, belum tentu jadi simple juga bagi orang lain. So pikir baik-baik sebelum bertindak.
> Mulut itu seperti teko (meniru ungkapan AA Gym..), mengeluarkan apa saja isi yang ada di dalamnya. Jika isinya teh, maka yang keluar dari corongnya adalah juga teh, dan sebagainya.
Sungguh indah pengandaian ini, meski sederhana tapi tidak mengurangi kedalaman makna yang terkandung di dalamnya. Jika corong teko adalah lisan kita, maka teko istu sendiri adalah hati dan pikiran/otak kita. Pertanyaannya sekarang adalah, jika dari lisan kita terkeluar ke'tidak-higienis'an itu, bagaimana lantas isi hati dan kepala kita?
> Tinggalkan yang tidak berguna; berkata baik atau diam!
Dari Abu Hurairah ra, dia berkata, rasulullah saw bersabda:
Merupakan tanda baiknya islam seseorang, dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.
(Hadits Hasan Riwayat Turmudzi dan lainnya)
Coba pikirkan, apakah kalimat yang tidak higienis tersebut memberikan manfaat? Bagi diri sendiri dan orang lain? Tentu jawabnya tidak! (Kecuali sebatas kepuasan diri sendiri). Jadi kenapa tidak ditinggalkan saja? Tidak ada kebaikan di dalamnya. Berkatalah hanya yang baik-baik, atau tutup rapat-rapat lisan kita untuk menghindarkan keburukan keluar daripadanya. Semakin banyak ke'tidak-higienis'an tercurah dari lisan kita, maka semakin besar juga ketidak-bermanfaatan diri kita. Naudzubillah!
> Tanamkan sifat malu.
Innamal a'malu bin niyat. Amal itu bergantung pada niatnya. Adakah kita termasuk di kalangan mereka-mereka yang senantiasa meniatkan amalan kita lillahi ta'ala? Jika sudah, alhamdulillah. Jika belum, bukan berarti kita tak mampu, mungkin perlu latihan dan pembiasaan yang lebih lagi. Mulakan dulu dengan niat untuk kebaikan semata. Setelah itu berusaha menjaga amalannya terhindar dari ke'tidak-higienis'an karena kita malu bergelar orang yang tidak higienis, malu menyinggung atau menyakiti orang lain, dan lebih lagi malu kepada Allah.
> Lebih banyak berkata dengan berbuat daripada berbuat dengan berkata.
Salah satu cara menghindarkan yang tidak bermanfaat dari produksi lisan kita adalah dengan meminimalkan kerjanya. Dan mengubah energi berkata menjadi energi bertinda, secara positif. Bukankah kita menilai orang lain dari hasil kerjanya? Bukan dari besar omongannya. Tunjukkan apa yang anda ingin sampaikan dengan kerja..kerja..kerja.
> Kesantunan akan menghindarkan anda dari kesalahan.
Ini adalah tindakan preventif. Jika anda tidak ingin kehujanan, hindari keluar waktu langit mendung. Jika anda tidak ingin terbakar, hindari bermain-main dengan api. Jika anda tidak ingin dan takut mengeluarkan terucap kalimat-kalimat yang tidak bermanfaat, sebisa mungkin lakukan sebaliknya, berkata dengan penuh kensantunan. Sangat sedikit dalam kesantunan itu terdapat ke'tidak-higienis'an. Maka dengan jalan ini anda telah memilih jalan yang lebih selamat.
> Perubahan kecil lebih berharga daripada omongan besar.
Last but not at least, hindari menjadi tong kosong yang nyaring bunyinya. 'The empty vessel makes noises'. Kalau agaknya ada rangkaian kata-kata kurang indah terburai dari bibir mungil kita, coba pasangkan deteksi keselamatan lisan yang bisa mengurangkan atau bahkan menghentikan sama sekali produksinya. Adakan perbaikan kualitas dulu baru kemudian beroperasi lagi dengan kondisi yang lebih baik. Berubah..berubah..berubah.. Berubah untuk lebih baik. Dan yang penting, senantiasa memonitor, melakukan maintenance dan mengadakan quality control. Setiap saat.
> Adakah kayu yang berbau semerbak yang tanpa asap? Siapa orang yang bisa mendapatkan kesempurnaan pada diri saudaranya?
Memang kita tidak bisa menuntut orang lain untuk menjadi baik, atau berbuat seperti yang kita ingini. Jika ada orang lain yang aktif menghasilkan produk-produk yang tidak higienis ini, cobalah untuk memahaminya. Mungkin dia sedang bermasalah, mungkin kalimat itu tidak sengaja terkeluar begitu saja, mungkin dia tidak bermaksud menyakiti kita, dan mungkin-mungkin yang lainnya yang mungkin bisa kita pikirkan secara positif. Cobalah untuk mengingatkan dengan cara yang baik. Kalau ternyata akhirnya kita merasa kitalah produsen ke'tidak-higienis'an itu, tetaplah berusaha untuk berubah semampu kita dan hindari berputus asa. Meski tidak ada kesempurnaan dalam diri manusia, berusalah untuk mendekatinya. Hanya Allah Yang Maha Sempurna.
> Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karuniaNya (QS Yunus: 107).
Inilah kunci tawakkal yang sukses, berpositif thinking terhadap Allah. Bukankah Allah itu seperti sangkaan hambaNya? Tak ada yang dapat memberi jika Dia mencegah, dan tidak ada yang dapat mencegah jika Dia memberi. Atas usaha kita, Allahlah penentu hasilnya. Berlindunglah kepada Allah dari kesia-siaan dan dari apapun yang menyebabkan hati dan kepala kita tidak higienis. Sesungguhnya kebenaran datang dari Allah dan kesalahan datang dari manusia. Kembalikan pada hakikat bahwa kita adalah hamba yang sedang berproses, mencoba dan berusaha memberikan pengabdian yang terbaik kepada Sang Pemilik.
Wallahu'alam