Bismillahirrahmaanirrahiim..
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang..
Pada suatu ketika – 10.20 pm
Kucatat sebagai hari bersejarah, waktu yg berharga..
Untuk dikenang..
Demi Dzat yang jiwa dan ragaku ada dalam genggamanNya..
Kumulai baris-baris kalimat ini sebagai doa..
Allah Maha Tahu apa yang sebenar-benarnya ada dalam hatiku, dan semoga Ia mengampuniku jika saja niatanku untuk menuliskan perasaan dan pikiran ini adalah untuk tujuan duniawi, untuk mendapat simpati seseorang, atau untuk mendapatkan apa saja selain dari ridhaNya..
Ini adalah saat yang paling menakutkan, merisaukan, saat dimana aku benar-benar mengetepikan perasaan-perasaan lain demi sebuah ‘jihad’.. Karena aku pernah tahu kisah seorang wanita yang menawarkan dirinya kepada nabi, karena aku tahu bahwa tidak diharamkan wanita meminang lelaki, karena aku tahu ada seseorang yang insyaallah akan bisa jadi imam, maka akhirnya aku niatkan untuk membuat tulisan ini..
Aku banyak melihat sisi positifmu sebagaimana aku juga bisa melihat dimana negatifnya (sebatas yang nampak di mata).. Sebagaimana aku juga paham, bahwa aku banyak kekurangan.. No body’s perfect kan?
Tapi dalam keyakinanku, apa yang ada dalam dirimu itu, boleh dijadikan sandaran dan diharapkan untuk jadi imam. Tapi juga, baik menurutku belum tentu baik dalam pandangan Allah..
Kita semua tak ada yang tahu bagaimana rezeki kita, kapan kita mati, siapa jodoh kita.. Bahkan menurutku (dan seharusnya begitu..), ibu bapak kita juga tak tau apa mereka berjodoh atau tidak. Karena hukumnya yang tahu hanya Allah! (meskipun mereka sudah menikah.. Dalam pandangan umum, kalau sudah menikah berarti berjodoh.. Padahal statement itu harusnya Allah saja yang tahu..) Kalau memang jodohnya, Allah akan menumbuhkan rasa cinta dalam hati masing-masing.
Aku tidak tahu kita berjodoh atau tidak, tapi semoga apapun yang menguatkanku untuk menuliskan ini adalah kebaikan yang datang dari Allah semata.. Aku hanya menyiapkan hatiku untuk memahami dan menghargai, dan mengisi ruang yang ada antara ‘saf’ kami nantinya (aku dan imamku).. Aku sangat bersyukur dengan apa yang kumiliki.. Aku tidak perlu seperti mereka, dan tidak ingin seperti mereka untuk berada di dekatmu..
Aku tidak tahu kita berjodoh atau tidak, tapi semoga apapun yang menguatkanku untuk menuliskan ini adalah kebaikan yang datang dari Allah semata.. Aku hanya menyiapkan hatiku untuk memahami dan menghargai, dan mengisi ruang yang ada antara ‘saf’ kami nantinya (aku dan imamku).. Aku sangat bersyukur dengan apa yang kumiliki.. Aku tidak perlu seperti mereka, dan tidak ingin seperti mereka untuk berada di dekatmu..
Aku tidak berharap endingnya sesuai yang kuharap, karena “ada tangan Tuhan dalam setiap kehendak kita”. “tidak harus apa yang kita inginkan terjadi”. “baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah”. Biarlah Allah menentukan apa yang layak kudapatkan..
Aku ingin dirimu mengerti, bahwa aku tidak mengharapkan kepentingan perasaan dan duniawi.. (semoga Allah menjaga niatku..). Aku menawarkan diri pada orang yang menurutku layak untuk jadi imamku nanti, yang akan membimbingku untuk lebih mencintai Allah, berjuang dalam jalan Allah, mulia dengan islam, mencari ridha Allah.. Ingatlah bahwa menikah bukan satu-satunya tujuan hidup. Menikah bukanlah segala-galanya, dan jika tidak menikah, kiamat sudah masa depan di depan mata.. No! I’m not them.. Till now, aku berusaha untuk memuliakan hidup meski bersendirian. Dengan ada imam, kuharap kemuliaan itu akan bertambah dan ridha Allah akan senantiasa tercurah dalam ‘saf’ kami. Mulia karena pengabdianku, mulia karena amalan-amalan kami jadi berjamaah.. Dan tercurah ridha Allah karena imam akan ridha akan keberadaanku sebagaimana aku akan ridha dengan dirinya..
"Aku menunggunya..Aku sedang menunggunya.Aku masih akan menunggunya, meski mungkin dia tak datang,Sampai aku tak mampu lagi menunggunya.."
Allah menciptakan makhlukNya dalam sebaik-baik keadaan, untuk tujuan yang mulia, dengan penuh perincian, tanpa satu pun cacat-cela..
Allah akan menjaga makhlukNya, tak pernah akan menyakitinya, tak akan pernah akan menyia-nyiakannya, tak pernah akan mendholiminya, tak pernah (meski dalam bentuk apapun yang terburuk dalam pandangan kita) bermaksud untuk melemahkan kita.. Jadi kalau pun kita tidak bersama, Allah ada bersamaku..
Semoga Allah memenuhi cawan hatiku dengan cintaNya, sampai datangnya imam yang akan membesarkan cawanku, ada bersamaku, untuk memenuhkan hati kami dengan cintaNya..
Semoga Allah memudahkan jalanmu dan juga jalanku di atas harapan untuk ridhaNya semata..
Whatever happen next, happen lah..
Sudah,
selesai.
Pada suatu ketika dini hari lainnya..
Alhamdulillahi robbil ‘alamin..
