"Orang yang tidak sabar menghadapi cobaan Allah, maka ia belum bisa dikatakan benar dalam pengakuannya sebagai muslim", kata Hasan al-Basri.
"Ini adalah tipu daya", kata Rabi'ah.
"Orang yang belum bersyukur atas cobaan Allah, maka ia belum dianggap benar dalam pengakuannya", kata saudara kandung al-Balkhi.
"Ada lagi yang lebih baik dari itu", jawab Rabi'ah.
"Orang yang belum merasa sedap menerima cobaan Allah, maka ia belum juga dianggap benar dalam pengakuannya", sambung Malik bin Dinar.
"Ada lagi yang lebih baik dari itu", jawab Rabi'ah sambil berteriak.Kemudian tiga ulama besar itu berkata kepada Rabi'ah, "Kalau begitu, katakanlah kepada kami bagaimana yang engkau maksudkan".
Rabi'ah kemudian menjelaskan,
"Orang yang masih ingat dan merasakan cobaan yang sedang menimpa dirinya belum dikatakan orang yang terbaik. Yang terbaik ialah orang yang lupa segala-galanya ketika menerima musibah, dan hanya Allah yang diingatnya. Yakni sebagaimana wanita-wanita Mesir lupa bahwa tangannya telah terluka ketika menyaksikan keindahan paras muka Nabi Yusuf".